Archive for March, 2008

Cool Story: gua, motor gua dan wanita2 di sekliling kita

Saturday, March 22nd, 2008

Ini
ada cerita yang menarik, kalo sudah ada yang pernah dapet yah silahkan
membacanya lagi, tapi kalo yang belum, ini lumayan buat refreshing.
Ini kisah paling menyentuh bagi para bikers. Tentunya kita para pengguna sepeda motor pernah mengalaminya…Selamat menikmati

==========================================

Tuesday, December 19, 2006
 
Oleh: Aditya Mulya
  Pengarang "Jomblo" & Redaktur Kepala "Cosmo Men"
      

Jaman
kuliah dulu, gue naik motor. Setidaknya di ITB, motor adalah faktor
yang menseparasi pria dari…uhm.. .pria lain. Intinya, setidaknya,
tahun 96, cowok yang punya motor di ITB (lumayan) jadi dambaan wanita.
 
Sayangnya yang kerap menjadi dambaan adalah motornya karena motor ini
menjadi alat bagi cewek-cewek itb untuk nebeng dan minta anter. Pemilik
motornya sendiri tetap tidak mengalami perbaikan kasta atau nasib dalam
asmara .
 
Singkatnya, kita-kita di sipil96 yang punya motor
sering diminta cewek-cewek untk minta anter mereka. dan berhubung cewek
sipil hany 20 dari 160 populasi, jelas segala permintaan mereka kita
penuhi.
 
  "Dit, gue nebeng!"
  "Oke!"
di mana kata
nebeng itu tertukar dengan wording ‘minta anter’ karena definisi nebeng
adalah sejalan arah kos gue DAN BUKAN nun jauh di pinggiran Bandung .
 
  "Dit, anterin gue ke rumah sakit!"
  "Beres!"
  Meski pun penyakitnya menular dan seperti dia, gue ikutan meriang 3 hari.
 
  "Dit, jemput ade gue di SMP!"
  "Jam berapa?"
  Di mana sesampainya di SMP itu, gue baru nyadar gue belum tahu tampang itu anak  kek gimana.
 
But all in all, kita sayang sama cewek-cewek sipil ini dan tidak pernah
ada kata tidak untuk melayani mereka. Tapi tetep aja entah kenapa gue
selalu kena kasus. berikut adalah kasus-kasus yang paling parah yang
gue pernah alami.
 
  Dengan Wiwin

 
Kita
sebut saja namanya Wiwin karena kalo sampe ketauan nama aslinya dalam
blog ini, riwayat gua bisa tamat. Wiwin adalah wanita berkacamata tebal
dengan otak yang lebih tebal lagi. IPKnya terancam 4. Wiwin adalah juga
atlet yang tergabung dalam pelatda voli JABAR. Dia punya tangan yang
cukup kuat untuk serve voli…dan kalo nampar cowok, itu cowok bisa
melintir. Gua suka boncengin dia pulang karena dengan begini gue bisa
nodongin dia dengan,
  "Eh Win, adit sekalian fotokopi catetan Wiwin yah."
Wiwin secara reluktan mengiyakannya dengan syarat, dalam proses
fotokopi itu, dia ikut sama gue nongkrongin tukang fotokopian dan sang
catetan selalu ada dalam jarak pandang dia. Ini adalah hikmah dari
pengalaman buruk di mana catetan dia dipinjem gak jelas berpindah
seribu tangan dan saking putus asa nyari, dia harus belajar dari
fotokopian catetan dia sendiri. Bagi gue, berdiri samping-sampingan
dengan Wiwin di toko fotokopian adalah situasi yang awkward. Gimana gak
awkward? Apa sih topik yang bisa lu omongin sama cewek, kalo di depan
lo ada orang minang keringetan gak pake baju megang-megang mesin
fotokopian?
 
Anyways di suatu hari yang windy (faktor angin  memegang peranan penting dalam plot cerita ini) gua nganter Wiwin
pulang. karena banyak angin, suara yang keluar dari mulut gua selalu  terbawa angin.
  "Win gue motokopi catetan ya!"
  "Apa?"
  "Gue minjem catetan lo!"
  "Hah?"
  "GUA MINJEM CATETAN LOOOO!!"
  "ADUH NGOMONG YANG JELAS KEK!"
Halah! Emang sih gue kan ngomong sambil merhatiin jalan jadi mulut gue
ke depan dan gak ke muka dia yang di leher gue. Akhirnya gua balik
badan dan bilang lagi. Sayangnya, entah kenapa gua lagi memproduksi
banyak air liur di saat itu. Sayangnya lagi, ini terjadi di saat angin
bertiup kencang. Sooooo gue balik badan, buka mulut lebar-lebar dan..
  "GUE MINJE..PLUEEHHH. …."
 
  crooot
 
Angin mengantarkan saliva gue ke kacamata wiwin. Itu gak terlalu wiwin
masalahin karena SEBAGIAN BESAR liurnya kena ke sisa muka yang kacamata
gak cover.
 
  She never spoke ever since.
 
  Dengan
Titin

 
Lagi-lagi
nama samaran. Titin ini rada ganjen. Kalo ke kondangan dia selalu
nyalon. Entah kesamber jin apa, suatu hari dia minta anter gue ke salon
dan ke kondangan setelah dari salon. biar efisien, tuturnya.
 
ya sudah gua turuti itu kemauan. Setelah berkarat nungguin di salon,
dia muncul dengan sanggul yang indah menawan. gua rasa kalo orang
lempar jeruk ke sanggul itu, bisa nyangkut.
  "Gimana, cakep gak?"
  "Mirip roro kidul Tin."
  "Monyet. Udah buruan ke resepsi! yang cepet ya!"
gua udah kek budak aja. di sini terjadi sesuatu yang Titin gak pernh
maafin gua sape sekarang, meski kalo gue bilang, itu salah dia.
  dia kos di simpang
( bandung  utara).
  Nyalonnya di simpang.
  Undangannya di gedung kartini ( bandung selatan)
  dia minta cepet.
 
  Ya udah, gue ngebut dong!
Sayangnya ini berbuntut di mana kita pergi dengan Titin tampak seperti
finalis putri indonesia dan sampai di resepsi terlihat seperti singa.
 
  "ADUH RAMBUT GUE! ELU SIH DIT!"
  "Makanya gua bilang PAKE helm!"
  "gua kira kalo helm, sanggulnya rusak, jadi jelek!."
  "gak pake helm jadi singa. Tuh."
  "Benci gua sama elu! Benci! Benciiiiiiiiiiiiiii i!!"
 
  Dengan Mimin

 
Untuk,
lagi, alasan keselamatan, gua gak akan mereveal nama dia. Suatu hari
gua sekelompok sama dia dan kita harus ngerjain paper nih ceritanya.
Singkat cerita, anggota lain pada egois dan gak kerja. Cuman gua dan
Mimin aja yang ngerjain di rumah dia di bilangan kuburan Ciputra. paper
selesai dan 10 menit  lagi kuliah paper itu dikumpulin.
  "DIT! AYO KITA CEPETAN!"
  "AYO!"
  "NGEBUT YA!"
  "LU PEGANGAN MA GUA!"
  "NAJIS!" (Cewek-cewek sipil ini selalu teguh menjaga iman mereka).
 
Adalah kebiasaan mereka untuk memegang handle di belakang ketimbang
melingkarkan tangannya di supir. Tapi yo wis , gue juga gak keberatan.
Pasaran gue juga bisa turun. Akhirnya gua ngebut! tapi tertahan di
lampu merah kuburan. Percakapan di bawah terjadi dengan mata gua liat
ke depan dan hanya denger suara dia.
"Min, kita harus bener-bener ngebut nih. tau sendiri Bandung .  Sekali kena merah, sampe 5 lampu ke depan kena merah juga."
  "Ya udah ngebut! Eh bentar tas gua jatoh."
  "Udah Min?"
  "Bentar."
  "Ijo Min!"
  "Nah, …."
  "OKE!"
  Gua langsung kebut itu motor!
  Gue salip semua mobil di pasar suci!
  Gua ngesot di tikungan telkom!!
  Gue jemping depan UNPAD!
  Gue terabas lampu merah simpang dago!!
  Gue turun kek orang gila sepanjang dago!!
  Gue ampir nabrak kuda di ganesa!
  Akhirnya masuk juga parkiran sipil.
 
  Abis ngerem, gue bilang,
  "Gimana motoran sama James Bond? Min? Min?"
  gue ngeliat ke belakang dan Mimin lenyap.
 
  Keesokan harinya, di rumah sakit boromeus…
  "Gua gak ngerti Min.."
"Lu gak ngerti bagian mana dit? bagian yang elu ngajleng dengan gua
baru setengah pantat? ato bagian gue ngegelinding di perapatan jalan?"
tukasnya jutek dengan tangan yang retak.
  "Tapi kan  gua udah bilang ijo! dan lu udah bilang ‘NAH’!’
  "NAH itu maksud gue baru mau duduk lagi."
  "tapi kan !"
  "Sudah lah! gua bingung manusia kek lo bisa masuk itb."
  Wah, kecerdasan dia bawa-bawa. padahal kalo mau cerdas dikit, dia megang gue.
 
Itulah sekelumit cerita gua, motor gua, dan wanita-wanita yang
ngegelinding karena motor itu. Yang jelas sejak itu demand menurun
drastis. Imbasnya adalah bahwa Oyep, temen gue, menjadi idola ke 20
anak itu untuk dianter ke mana-mana. berkorelasi dengan itu, IPK gue
menurun dan IPK Oyep naik secara fantastis. Oh nasib.

“A BETTER FUTURE”

Saturday, March 22nd, 2008

Tawa anak-anak itu pecah, mereka berkumpul dan mereka berebutan jatuh kedalam lumpur, tergulung ombak, mendirikan tenda untuk tempat berteduh, dan berlati olah vokal di taman. Tak takut terik mentari menyengat, hanya keriangan memecah kebuntuan beban hidup kita melihat geliat mereka yang tanpa beban itu.

Beberapa aku melihat liputan tentang kegiatan anak-anak. Sungguh menyenangkan melihat tubuh-tubuh kecil itu loncat keriangan bermain lumpur, berdiri congkak mengendalikan papan seluncur agar stabil diatas ombak, berlari dan melompat masuk ke dalam tenda kemah mereka, dan berlatih olah vokal untuk teater kecil mereka.

Kita tentu mereka-reka akan menjadi manusia seperti apa mereka 10-15 tahun lagi. Mungkin mereka akan melebihi kemampuan dan ilmu kita, atau meratap sedih menjadi pecundang.

Menurutku inilah potret mendatang wajah negeri kita, mereka lah pemilik ranah republik ini sepenuhnya. Jangan halangi mimpi mereka dengan gizi buruk, biaya pendidikan yang selangit, orang tua yang mendadak gila akut kerena memikirkan beban hidup yang berat, sehingga anak-anak ini menjadi korbannya.

Beberapa kali mata ku berkaca bahagia dan haru, mendengar mereka bangga akan profesi sang ayah yang hanya seorang juru parkir, ataupun supir angkutan umum kota (angkot). "Akbar bapaknya kerja apaan?", ibu Leli pemilik TK Pelangi ini mencoba memberi kami (kru liputan Lintas Siang) kemudahan awal pembicaraan dengan salah satu anak murid TK Pelangi. "Supir", jawab akbar singkat saja tapi tidak ada rasa malu. Aku merasa bangga meendengar Akbar yang tanpa rasa malu menjelaskan profesi ayahnya. Ya, kalian tidak boleh malu, karena ayah mu sedang berjuang ‘dik.

Lain pula dengan sekolah akting yang diprakarsai oleh artis senior Yessy Gusman. Anak-anak ini berlatih serius membacakan puisi dan menyanyikan lagi tentang pentingnya membaca. Tak ada sedikitpun niatan mereka ingin menjadi artis, mereka tulus demi sebuah seni dan kecintaan mereka.

Atau menahan rasa malu ketika anak-anak berusia 10 tahun hingga 15 tahun, mempermalukan aku ditengah ganasnya ombak pantai Pelabuan Ratu. Mereka terkekeh-kekeh melihat kami (kru liputan Lintas Pagi Akhir Pekan) berusaha keras berdiri diatas papan seluncur. Selesai meliput mereka berlatih, kami pun ingin mencoba salah satu olahraga ektrim ini. Sepertinya tampak mudah, dan ombaknya tidak menyulitkan. Tidak seperti video-video surfing diluar negeri, yang ombaknya mencapai 7 meter sampai 10 meteran. Kami pun turun menuju mandala perang tersebut. Alamak, kami seperti orang jompo yang tidak mampu berdiri. Alih-alih kami jadi sasaran empuk gelombang yang menggulung. Memang dari bibir pantai sepertinya ombak tidak besar, tapi coba kalau anda masuk dalam area 15 meteran dari bibir pantai. Ombak tersebut menutup pandangan anda ke depan, dan tampak besar.

Hampir saja aku menjadi korban keganasan ombak Pelabuan Ratu yang ke tujuh , karena sehari sebelumnya enam karyawan PT. Suzuki terseret ombak Pelabuan Ratu. Aku masih penasaran karena sudah setengah jam berlalu, tapi masih tidak mampu bertahan lama berdiri di papan seluncur. Mendengar penjelasan dari instrukturnya, penyebab kegagaln kami semua adalah pemilihan papan seluncur. Aku tetap berpegangan teguh dengan panji-panji keyakinanku (halah!..mulai ngaco kalimatnya…hahaha), bahwa aku bisa berdiri. Matahari mulai beringsut hilang dari ujung horizon. Sayup-sayup suara orang mengaji keluar dari pengeras suara masjid, tanda sebentar lagi maghrib. Hal yang sangat dihindari untuk orang melakukan aktivitas pada saat maghrib. Teman-teman tim liputan sudah berjalan menuju pantai dan menyudahi permainannya. Tinggal aku seorang diri, ku lihat gejala tidak normal dari arah ombak. Aliran dan arah ombak semakin berbelok, aku pun bersiap mencari ombak besar. Yup, itu dia ombaknya. Papan ku rebahkan, aku pun meluncur. TAPI!!!, aku tidak bergerak ke depan.

Panik bukan kepalang, aku pun teringat kata-kata instruktur surfing, bahwa diantara  ombak ada semacam daerah yang pecah. Fungsinya adalah aliran ombak yang mengarah ke bibir pantai, maka ombak akan berbalik ke belakang dan daerah tersebut relatif tenang riaknya. Itulah yang bisa menyeret benda-benda yang mengapung. Dan seretan aliran tersebut bisa sepanjang 50 meter ke dalam laut. Andalan ku saat itu adalah papan yang ku naiki. Aku berusaha turun dari papan, dan menahan dengan kaki ku. Ku jejakkan kai ku ke dalam pasir sekuat-kuatnya. Bukan semakin mantab menahan seretan ombak. Tapi kaki ku semakin tenggelam ke dalam pasir. Pasir ini mirip lumpur hidup, semakin mencekam saja keadaanku. Tiba-tiba ombak berikutnya datang, dan itulah yang menyelamatkan ku. Aku terlepas dan dapat berjalan kembali menuju bibir pantai.

Salah satu teman kru memanggil dan menyuruhku menyudahi permainan berbahaya ku. Adzan maghrib terlantun damai beserta angin pantai, hati ku mulai tenang pasca tragedi yang disebabkan sikap gegabah ku. Hampir saja kejadian konyol itu terulang lagi. Dulu waktu kecil pun aku hampir tenggelam di Pelabuan Ratu akibat salah pengertian adu berenang di lautan. Untung saja nasib baik masih berpihak, aku terdorong ombak besar yang menuju bibir pantai, dan selamatlah aku.

Aku pun menceritakan kejadian konyol tersebut, teman-teman tertawa mendengar penjelasanku dan sambil menatap heran, bahwa aku masih ada di depan mereka. Sial benar mereka itu.

Yang terakhir adalah ketika melihat kelompok anak-anak sekolah dasar berwisata alam. Kegiatan dimulai dengan menanam padi, dilanjutkan menangkap ikan, memandikan kerbau, melukis camping,  terakhir melihat perkebunan dan berkeling melihat taman menggunakan kerete mini.

Anak-anak tampak riang bermain dilumpur, mungkin bau lumpur sawah sudah tidak pernah dicium oleh anak-anak sekarang. Pada waktu kecil, aku sering kali menjumpai persawahan. Maklum saja dulu Bekasi banyak sekali sawahnya, jadi hal yang berbau lumpur baik itu aroma dan tempatnya sudah tidak asing. Tapi bagi mereka ini hal baru. Nikmati saja ‘dik, karena kamu makan dari tempat yang seperti itu. Terus injak lumpur itu sampai dalam, gemburkan. Cacing tidak akan mengotori kakimu.

Yang lucu adalah mereka tidak tahu kotor dan jijik ketika memandikan kerbau, sibuk sendiri dengan sibakan air ke badan kerbau, menyorongkan mukanya ke pancuran air yang hasil dari air kolam kerbau tersebut. Aku hanya menggelengkan kepala dan tertawa renyah melihat tingkah polah mereka. Padahal dari tadi ku lihat si kerbau membuang air seninya terus. Anak-anak itu mungkin meminum sedikit air tersebut…hahaha.

Itulah dunia anak-anak yang polos, menyejukan, masih banyak mimpi yang bisa mereka raih. Hanya tinggal memolesnya, jadilah mereka berlian dan mutiara-mutiara bersinar.

                                  "A Better Future"
                    The people of Jakarta seeking a BETTER FUTURE
                  To help them achieve that BETTER FUTURE we have
                       Established an informal pre-school for children
                                               From poor families.
                       This school is not profit and relies an donations
                                               From its supporters.
                      We thank you for your support of this worthwhile
                                                         activity

Itu sedikit prakata yang ku ambil dari TK Pelangi…sebuah tempat yang dilandasi oleh ketulusan dan niat baik. Tanpa dipungut bayaran, tapi mampu berdiri mandiri, hanya untuk mereka yang hilang kesempatan memperoleh pendidikan, yang lagi-lagi alasan mendasar…MAHALNYA DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA!

Haruskah?

Tuesday, March 18th, 2008

iya…haruskah mereka menangis tersedu sedan karena tidak bisa menjadi idola. Hanya karena sakit lalu menjadi parau suaranya, dan tereliminasi karena kemampuan menyanyi buruk ketika menyanyikan beberapa lagu dari band Ungu, Rossa, Ari Lasso, Sheila On 7, PeterPan. Atau pula dengan kelakuan wannabe rock stars mereka, memakai kacamata ala Ian Kasela, rantai pengikat, dan rambut ala monas, mereka terlihat sedang menipu diri sendiri menjadi orang lain dan melompat melewati sebuah proses kehidupan yang jauh dari apa yang mereka belum melewatinya.

Ironis dan betapa teganya kita tertawa melihat mereka seperti itu. Kejahatan apa yang sedang kita perbuat terhadap generasi cilik ini. Kita mengkarbit mereka dengan cinta-cinta muluk lampiran tiap lirik lagu. Kemana kita akhir pekan…yah, "naik delman disamping pak kusir yang sedang bekerja saja"…atau, "naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali"…kamu punya binatang peliharaan?, kamu kasih nama siapa?. namanya Helli..guk-guk, si anjing menyalak girang.

Lagu-lagu indah berirama riang itu yang mengiringi kepolosan kita pada masa lalu, sampai kini dan begitu dekat dengan dunia kanak kita. Lirik polos yang selalu ada dibenak kekanak-kanakan kita, yang selalu ingin tahu isi dunia ini, yang selalu ingin bermain selama mungkin lalu menggali sesuatu karena sifat kanak kita yang polos. Tapi kemana semua, berganti dengan…"wo’o, kamu ketahuan…pacaran lagi".

Bukan ingin langsung menunjuk jari telunjuk ini dengan telak ke sebuah program acara televisi, tapi itulah yang nyata saat ini. Tidak hanya satu, tapi sudah ada beberapa. salah satunya yang sedang meroket acaranya adalah IDOLA CILIK. Jingkrak, lenggak-lenggok, teriak mereka, seperti buah yang matang sebelum waktunya. Tertawa, sedih, dan harap cemas orang tua melihat tingkah polah mereka sedang berada dipanggung, takut tereliminasi karena lagu cinta orang dewasa. Sang juri siap memberi komentar pedas nan menghibur pemirsa, lalu memberi petuah-petuah if he/she wannabe being the real idol. Penonton yang notabene baru pulang sekolah, langsung pindahkan channel TV nya atau langsung menonton di studio.

Seperti apa kita yang menonton acara seperti ini, haruskah kita bersimpati dan berempati karena menyoroti kekalahan mereka. Bukan itu kawan yang harus kita buat, tapi kita harus prihatin dengan para buah yang matang sebelum waktunya. Tidakkah kita bersedih dan merasa terpuruk hati kita. Lalu lunglai lemas tidak bisa menyelamatkan mereka berpolah layak idola dewasa mereka, mereka hilang akan identitas, mereka dihapuskan jiwanya hanya karena keuntungan. Kusut masai sudah seperti ini, menjadi buntelan benang kusut yang menggelinding liar yang arahnya terjun bebas dari sebuah meja apik.

Lalu apa kata pembuat program dan yang diuntungkan dari acara ini, biasanya pihak televisi. Lagi-lagi dengan ceracaunya…"kalau tidak suka dengan acaranya, ya tinggal ganti channelnya saja". Hah, keparat macam apa yang seenaknya bisa berkata seperti itu. Kau ini sedang mencetak apa?!.

Apa yang dibenak para idola cilik ini membayangkan…"Biarlah ku rela melepas mu, meninggalkan aku…", "Otak mu seksi, itu terbukti dari caramu memikirkan aku", atau "cuma kamu yang bisa membuat ku menjerit ".Kita membunuh jiwa mereka. Haruskah mereka dicium bibir, pipinya terlebih dahulu. Atau yang lebih ekstrim kita mendidik mereka untuk berpacara sebelum usianya. Maka kita memasukkan unsur seks dalam kehdupan mereka tanpa disadari oleh kita. Bisakah kita menyebut ini juga bahaya laten, lebih parah dari penghapusan sejarah, dan pembakaran buku-buku yang dilakukan beberapa rezim orde di republik keparat ini. Dimana nurani kita melihat itu!. Hentikan atau kita melahirkan para monster-monster kecil.

Apa yang di benak kita?

Dilarang sakit yang miskin!

Thursday, March 13th, 2008

Ini cerita yang tertunda…

=====================================

Dilarang sakit yang miskin!

Potret sedih bila menjadi orang miskin di Indonesia, serba dilematis dalam mempertahankan hidup ditengah kurangnya gizi dan makanan yang sehat. Apabila sudah sakit, maka sebuah kesulitan akan datang lagi. Apa itu?, ya masalah itu adalah uang untuk pendaftaran dan menebus obat.

Berapa orang yang kekurangan itu harus kembali kerumah dan menahan rasa sakit yang mendera tubuh karena ditolak oleh pihak rumah sakit yang disebabkan kurang biaya untuk pendaftaran. jadi orang susah saja sulit, apalagi jadi orang kaya. DASAR REPUBLIK LAKNAT!, semuanya sudah uang yang berbicara, tidak ada sedikit pun rasa manusiawinya.

Tak habis pikir sudah ku melihat kejadian, laporan, dan fenomena susahnya jadi orang miskin yang sakit di republik ini. Pemerintah berusaha elok dalam membuat peraturan, kebijakan, dan perundangan agar baik di mata rakyat. Tapi tidak sampai semuanya berjalan sesuai pelaksanaan dilapangan. Yang tak punya uang dipaksa sehat selalu dan senyum selalu menantang hari demi hari.

Ini semua berkaitan dengan kejadian yang baru aku alami hari ini. Tak tahan dengan iritasi oleh jamur keparat itu, segera saja aku untuk konsultasi ke dokter kulit dan minta resep paling mujarab buat si jamur keparat. Bukan main harga yang perlu ku tebus, 400 ribuan. WOW! hanya untuk si jamur aku harus sisihkan uang sebanyak itu. Dulu aku terbiasa dengan layanan gratis yang ku peroleh dari kantor ayah ku, maklum saja ayah salah satu pegawai BUMN. Aku pun berpikir, untung saja ayah aku beruntung bekerja di tempat yang memperdulikan kesejahteraan karyawannya, kalau tidak aku beserta 2 saudara kandungku sudah merepotkan kedua orang tuaku terutama ayah ku sang kepala keluarga.

Dan sekarang aku harus membiayai semua yang berkaitan dengan hajat ku sendiri. Masih saja berbicara untung, aku berpikir pastinya aku masih beruntung mempunyai pekerjaan. Kalau tidak aku pasti merepotkan orang tua ku, karena jatah gratis dari kantor ayahku sudah tidak bisa dipergunakan lagi.

Sudah banyak cerita miris dari REPUBLIK LAKNAT ini, mengenai penderitaan rakyat kecil, terutama yang berpenghasilan minim. Tentunya ini akan menjadi beban hidup tambahan lagi, apabila ia atau ada keluarganya yang sakit. Apalagi ditambah dengan rawat inap. Tidak heran apabila kita melihat potret dan potrait muka-muka lusuh, pucat tanpa harapan menahan sakit yang teramat mendera tubuh, karena tidak kuat menahan derita sakit di tubuhnya.

Aku punya cerita ketika mengantarkan pasien ibu ku yang mengalami pendarahan hebat ketika ingin melahirkan. Laju kendaraan ku percepat agar sang ibu dan putra harapan mereka baik-baik, tidak mengalami kejadian tragis. Mobil ku terhambat oleh padatnya lalulintas perlintasan kereta api. Aku pun terbawa suasana kalut mendengar sang ibu meraung-raung menahan sakitnya pendarahan. Sebentar-sebentar sang ibu pingsan, kami berusaha untuk selalu membuat sadar sang ibu. Sampai lah aku di rumah sakit, segeralah pihak keluarga mengurus administrasi, tapi pihak keluarga segera membatalkan pengurusan admistrasi rumah sakit. "Biayanya 14 juta bu, jadi harus dibayar dimuka 7 juta dulu", jawab Suster. Alamak, keburu mati kering jasad ibu muda tersebut, segera saja mengambil gerakan super sebat, pihak keluarga mencari rumah sakit yang lebih ramah.

Aku pun terpaksa harus kembali ke jalan yang ramai, memotong jalur tanpa lihat kanan-kiri lagi, demi sebuah harapan keluarga kecil bahagia. Perjuangan sang ibu tidak sia-sia, ada juga rumah sakit yang berharga manusiawi. Sampai kapan cerita ini harus terulang, atau ini proses genosida massal yang dilakukan oleh penampuk kekuasaan, demi memperingan beban sosial negeri ini.

Mungkin orang yang berlimpah tidak perlu sulit lagi menentukan mau di opname di kelas satu atau kelas kambing yang toiletnya berbau anyir campur-aduk beragam penyakit di dalamnya. Sedangkan yang tidak berkecukupan, harus berpikir untuk melupakan sakit mereka demi mencari uang demi hidup untuk hari ini saja sudah cukup.

Lagi-lagi aku masih di pihak yang beruntung…

Penyakit Lokalan!

Wednesday, March 12th, 2008

Penyakit tradisional yang memuakkan!!!
Kutu air…bah, penyakit macam apa itu. Seumur-umur yang ku tahu tentang kutu air adalah salah satu pakan ikan. Apalagi pada saat meroketnya pamor ikan Cupang sebagai aduan. Binatang ini yang dicari-cari sebagai pakan yang terbaik untuk ikan ini.

Tapi penyakitnya belum pernah aku mencicipinya. Padahal setiap mengambil kutu air, aku berusaha menghindarinya. Tapi mengapa sekarang aku terkena penyakit itu. Sungguh menyiksa, gatal bukan alang-kepalang, pedih karena kulitnya menjadi rentan gesekan, dan kulit terkelupas. Dan baru ku ketahui pula bahwa itu bukan disebabkan oleh binatang air atau semacamnya, tetapi dikarenakan jamur.

Macam-macam penyebab timbulnya jamur, karena lembab menjadi faktor utama timbulnya jamur. Untuk negara yang beriklim tropis seperti Indonesia ini, jamur lebih mudah menjangkiti kulit orang indonesia pada umumnya karena tingkat kelembabanya lebih tinggi.

Aku sempat bingung kenapa ini semakin menyiksa, semua pengobatan dari salep, antobiotik, sampai antiseptic ku coba. Sampai-sampai punya pikiran membakar itu kaki (ekstrim banget yah…hahaha). Sepertinya aku harus konsultasi dengan dokter kulit. Aku pun mencari-cari penyebab aku sampai terkena penyakit kutu air (lokal banget ga sih penyakitnya). Ada kemungkinan aku terkena pada waktu mengikuti liputan banjir, aku tidak mencuci kaki lagi, lantas langsung memakai sepatu. Ada pula karena terlalu sering bermandikan hujan sepanjang hari ketika menuju kantor, sehingga sepatu ku lembab selalu. Dan ada pula ketika pendakian, sering kena hujan juga. Apalagi saat pendakian, sangat jarang sekali aku melepas sepatu karena perasaan yang serba tidak praktis dan kepalang tanggung menikmati perjalanan. 

Padahal itu semua rentan dengan jamur, dan aku pun sadar penuh kulitku ini sangat sensitif dengan air kotor (bangsawan banget nggak sih…hehehe). Aku mengacuhkan itu semua atas nama menguji kekebalan tubuh…HALAH!.

sebelum semua kalian mengalami kejadian seperti ku, kini ku beri tips untuk mencegahnya kawan. Karena sekarang ini musim hujan terus, kita sebaiknya berjaga-jaga dan waspada terhadap banjir agar kita tidak tenggelam bersama rumah kita…jadi nggak nyambung neh!halah…lanjut.

  1. Menjaga kaki dan sela kaki selalu kering
  2. Gunakan selalu sandal saat di kamar mandi umum, kolam renang, dll
  3. Selalu mengganti kaos kaki dan pacar (kenapa pacar, karena itu juga bikin lembab…hahaha)
  4. Gunakan sepatu yang aliran udaranya baik, dan punya sepatu lebih dari satu itu lebih baik, karena dapat digunakan bergantian. Dan proses kering dari tiap sepatu itu lebih baik.
  5. Gunakan selalu obat anti jamur dan anti miskin, dan bedak apabila anda sudah curiga dengan jamur yang ada di kulit anda.

Kalau anda ingin mencari obat anti jamur, biasanya cari yang mengandung mikonazol, klotrimazol, tolnaftat. Dan pengobatan dapat dilakukan selama 1-2 mingguan. Apabila pengobatanitu tidak kunjung sembuh, kulit mulai memerah, membengkak, dan berdara, maka segeralah konsultasikan ke dokter kulit di toko-toko kaset yang terdekat dan bengkel-bengkel yang 24 jam…

mari perangi JAMUR…KAMPRET!!!

Titipan Daun Kering

Wednesday, March 12th, 2008

Apa kabar mu daun kering…

tak terungkap tingkap di ruang
mati dalam kering dan sunyi dering

Jangan mati, karena kau memang mati

Aku titip daun kering mengharap hati

berhari, berpekan, berbulan, bertahun…abadi

=================================

Sudah berapa lama kau disana…
kering sudah jasad, hanya harum tempat asal dan mendekati bau pijakan pendaki.

rindu kadung menyelemuti relung sunyi
asu, alam meriak di tenang hati, tutup sejuta elegi.

Jadi nocturnal, menyesakkan, di tengah gerung-mengerung lantas menggonggong.

Salam untuk si cantik yang ku titipkan daun kering, semoga kau abadi, se abadi rasa ini.

Seprima

Wednesday, March 12th, 2008

Ketika semua indah, ku genggam erat tangan mu…
Ketika semua stagnan, mati rasanya…

tak dijawab, tapi merespon, dan jangan jadikan ini elegi berikutnya. Mungkin saja ini jalan aman, tapi sampai kapan.
==================================

Usang sudah yang lalu, cobalah berbijak hati. Pikirkan langkah itu.
Sudah puaskah, tak mau lagi berpikir sehingga kalut mengambil kata hati.
Negasi lagi yang mengalahkan kata hati. sedih sebagai manusia bebas seutuhnya.

Cantik…